INILAH AKU, CAHAYA DARI SEBUAH HARAPAN
Halloha, panggil saja Aku Inung! Itu
sapaanku. Jauh dari nama lengkapku. Tak jarang yang bertanya-tanya dan tak
kenal nama panjangku, “siapa Nur Rahmawati?”. Akupun reflek tertawa kecil
ketika mendengarnya, terlalu sering pertanyaan itu ku dengar. Sontak ku berucap
itulah nama lengkapku. Wajah bingung terlihat dari rautan muka teman-temanku.
Pasti langsung bertanya kembali, Kenapa harus Inung?
Akupun bingung menjelaskannya,
sapaan kecilku yang melekat hingga aku dewasa. Bermula karena nama “nur” adalah
nama sejuta umat, so tanteku memanggilku inung untuk keliatan berbeda saja. Tak
disangka panggilan itu langsung melekat hingga aku dewasa.
Nur Rahmawati adalah nama dari orangtuaku.
Nama yang melekat untuk sejuta harapan untukku. Nur berarti Cahaya, Rahma
karena kelahiranku di bulan Ramadan dan Wati yang berarti wanita. Aku adalah wanita yang penuh cahaya dan
harapan di bulan suci Ramadan. Semoga harapan itu bisa aku pancarkan untuk
orang tersayangku terkhusus keluarga kecil yang membesarkanku.
Bapak bernama Makmur dan mamaku bernama Marlin Listyawati. Bapak memiliki 3 orang anak perempuan yang ukuran baju, celana dan sepatunya sama dengan istrinya. Tukaran barang pastilah terjadi. Meskipun sekarang ketiga putrinya lagi berada di tempat yang jauh dari rumah. Kakakku Iin sudah berkeluarga, tinggal di Tanah Grogot, Aku dan adeku Indri Agustina sedang menempuh perkuliahan di Samarinda.
Bapak, alarmku tiap harinya. Bapak
tak letih menelponku 3 kali sehari untuk menanyakan bagaimana kabarku dan
saudariku. Selama 20 tahun jarak menjadi halanganku dengan bapak. Tugas kerja
menjadi penyebabnya. Tapi aku tak merasakan jarak itu. Mama selalu mengingatkanku bahwa kehidupan
itu harus ada yang dikorbankan. Betapa penuh perjuangan hidup ini. Walaupun, dari
kecil aku diajarkan banyak pengalaman susah, sedih maupun senang tentang arti
kehidupan. Nilai tolong menolong menjadi dasar ingatanku hingga dewasa.
Bagaimana tidak hal kecil seperti, orangtuaku dibangunkan tengah malam untuk
mengantarkan tetangga yang melahirkan, dan juga setiap sabtu kurang lebih selama
satu tahun orangtuaku mengantarkan tetangga kontrol ke dokter saraf untuk bisa
sembuh dari penyakit schizoferenia karena tak punya mobil. Bermula dari hal
kecil ini nih, membuat cita-citaku tak jauh dari hal sosial.
Cita-cita ingin membuat klinik
kesehatan di desa-desa tertinggal. Tampak sesuai dengan jurusan perkuliahaku di
Kesehatan Masyarakat. Organisasi yang aku ikutin pun tak jauh dari dunia
kesehatan ataupun kegiatan sosial. Seperti ikut serta menjadi Relawan Kesehatan
Pengabdian Masyarakat (RKPM), Klinik Jalanan, Bina Desa dan Kegiatan di
Generasi Baru Indonesia (GenBI). Segelintir kesibukkanku sebagai bekal
menunjang terwujudnya cita-citaku. Dapat berbaur dan mengetahui permasalahan
dari setiap Desa, tercapainya solusi hingga dapat terwujudnya sebuah perubahan
yang lebih baik, membuat kebahagian tersendiri didalam hidupku. Semoga
cita-citaku dapat terwujud yah. Amin!
Harapanku untuk kehidupan,
jadilah manusia yang bermakna untuk semesta ini. Karena hidupmu bukan hanya
kamu saja, tapi kita (30/09/2018).
Comments
Post a Comment